4 KEWAJIBAN PENDEKAR PAGARNUSA TERHADAP ULAMA NU PEWARIS NABI

4 KEWAJIBAN PENDEKAR PAGARNUSA TERHADAP ULAMA NU PEWARIS NABI

www.sipronews.com Wajib bagi pendekar Pagarnusa untuk menjaga ulama NU yang berdakwah menyampaikan kebenaran ke hadapan manusia. 

Ada 4 hal bentuk kewajiban Pendekar Pagarnusa kepada Ulama NU:
KE-1: Beradab, menghormati, dan memuliakan ulama NU. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan, Adab baik seseorang adalah tanda kebahagiaan dan kesuksesannya. Adab buruknya adalah tanda kesengsaraan dan kebinasaannya. Adab yang baik adalah sangat efektif untuk mendatangkan kebaikan dunia akhirat. Adab yang buruk adalah sangat efektif untuk menghalangi dari kebaikan dunia akhirat.” (Madarijus Salikin, 2/391) 
Ibnu Mubarak rahimahullah memberi nasehat sindiran kepada orang-orang yang merasa ilmunya banyak namun adab dan akhlaknya buruk, 
نَحْنُ إِلَى قَلِيْلٍ مِنَ الْأَدَبِ، أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْعِلْمِ
“Kami lebih membutuhkan sedikit adab, dibanding banyaknya ilmu.”
 Menghormati ulama NU bagi Pendekar Pagarnusa termasuk pengagungan kepada Allah SWT, menurut Imam Nawawi bahwa menghormati ulama lebih utama dari pada kepada orang tua karena ulama adalah para pewaris Nabi. sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
 “Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah subhanahu wata’ala, yaitu memuliakan orang tua yang muslim, orang yang hafal al–Quran (ulama) tanpa berlebih-lebihan atau berlonggar-longgar di dalamnya dan memuliakan penguasa yang adil.” (Abu Dawud, no. 4843 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, 1/44) 

KE-2: Mewariskan sikap menghormati ulama NU kepada para generasi Pagarnusa. 
Warisan yang paling baik untuk generasi penerus kita adalah berupa kebaikan, dan di antara kebaikan itu adalah menanamkan sikap hormat dan ta’zhim kepada para ulama NU pewaris nabi. Mereka adalah orang-orang yang telah Allah SWT tinggikan derajatnya baik di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ 
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis,’ maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11) 
Maka tentunya tidak pantas bagi Pendekar Pagarnusa untuk Menipu,Menghina dan Merendahkan Ulama NU yang telah Allah angkat derajatnya.
Sangat tidak pantas bagi Pendekar Pagarnusa untuk mengakhirkan hak orang yang telah didahulukan Allah, sebaliknya tidak mungkin mendahulukan orang-orang yang telah Allah rendahkan derajatnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman: 
…وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“…Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)
 Oleh karenanya wajib atas Pendekar Pagarnusa untuk mewariskan kepada generasi penerus sikap hormat dan ta’zhim kepada para ulama NU pewaris Nabi. 
Ibrahim bin Syahid berkata, “Bapakku pernah menasehati diriku dengan berkata, ‘Wahai Ibrahim, datanglah kepada para ulama ahli ilmu, belajarlah dari mereka, ambil adab, akhlak, dan petunjuk mereka, karena sesungguhnya yang demikian itu lebih aku sukai dari pada banyak meriwayatkan hadits.’” (Al-Jami’ Li Akhlaqi Rawi, Al-Khatib, 1/17)
KE-3: Menimba ilmu langsung dari para ulama NU, bukan melalui buku atau tulisan saja. 
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, mempelajari ilmu lewat jalur bertemu langsung dengan ulama NU pengasuh Pondok Pesantren akan lebih memudahkan dalam memperoleh ilmu (dan pemahaman) dari pada belajar lewat metode kitab saja.
Karena mereka yang memperoleh ilmu melalui metode kitab akan lebih susah dan membutuhkan upaya sungguh-sungguh agar bisa paham. Padahal ada beberapa hal seperti kaidah-kaidah syar’i dan batasan yang telah ditetapkan oleh para ulama yang butuh penjelasan lanjut, dan harus dipelajari dengan merujuk dan bertanya langsung pada para ulama NU sebisa mungkin. (Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, 103)
Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim dijelaskan, salah satu adab seorang santri adalah jangan sekali-kali mengambil ilmu dari buku tanpa ulama. Sebab, lembaran kertas tidak bisa membimbing. Sementara ulama akan membimbing jika ada bacaan pelajar yang keliru. 
Belajar agama tanpa ulama sangat rawan gagal paham dalil agama, dan mudah ditipu aliran sesat. Sesorang ingin mengetahui makna al-Qur’an tanpa belajar dan tanpa bimbingan ulama, akan menemui kesulitan.
Imam az-Zarnuji berpesan, jangan sembarangan memilih guru. Dalam memilih guru, sebaiknya guru yang lebih pandai, wara’, lebih tua. 
Ilmu dapat diperoleh dengan 6 hal, yaitu: Cerdas, Tekun, Sabar, Kemampuan Biaya, Memperoleh Petunjuk Ulama, dan Waktu Yang Lama.
Ulama NU pewaris n2abi adalah sosok yang luas ilmunya dan dengan ilmu itu ia memiliki kadar ketakwaan atau khasyah (takut) yang tinggi. 
Ulama NU itu orang yang memiliki rasa khasyah kepada Allah, senang terhadap hal-hal yang disenangi Allah, serta menghindarkan diri dari segala hal yang mendatangkan murka Allah.
Ketakwaannya akan mengantarkan dirinya menjadi makhluk mulia di hadapan Allah. 
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13)
KE-4: Menjaga dan membela kehormatan Ulama NU
Jika keberadaan para Nabi adalah karunia yang sangat berharga, maka keberadaan para ulama pun di tengah-tengah masyarakat merupakan karunia yang tak ternilai harganya.
Jika keberadaan para Nabi mutlak dibutuhkan oleh umat, maka begitu pun para ulama. Jika para Nabi adalah manusia agung yang harus ditaati dan dihormati, begitu pula para ulama adalah manusia mulia yang harus ditaati dan dihormati sesuai koridor syariat Islam oleh Pendekar NU. 
Dengan kedudukan Ulama NU pewaris nabi yang begitu vital dan terhormat, maka membelanya dan menjaga kehormatannya bagi Pendekar Pagarnusa menjadi sebuah keniscayaan. Karena membela kehormatan ulama NU sama dengan membela agama itu sendiri. 
Syaikh Utsaimin pernah berkata, “Mengghibah ulama memberikan mudarat kepada Islam seluruhnya. Karena umat tidak akan percaya lagi kepada ulama lalu mereka akan meninggalkan fatwa para ulama dan lepaslah mereka dari agama.”
Orang-orang yang phobia terhadap Ulama NU menggunakan berbagai cara untuk menghancurkan NU. Salah satu cara yang mereka lancarkan dalam rangka meruntuhkan kewibawaan Ulama NU adalah menggugat otoritas ulama. 
Mereka menyebarkan pemikiran bahwa tidak ada yang boleh dan bisa menjadi pihak yang otoritatif dalam memahami agama ini. Semua orang berhak dan bisa memahami dan menafsirkan agama sesuai kehendaknya. Bahwa semua faham dan tafsir adalah benar dan tidak ada yang paling benar atau satu-satunya yang benar. Bahwa para ulama juga adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar. 
Mereka merendahkan ulama NU pewaris nabi dan mencampakkan fatwa serta pandangan para ulama NU. 
Allah memberikan ancaman kepada mereka dengan firman-Nya, 
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
 “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)
 Membela para ulama NU pewaris nabi bagi Pendekar Pagarnusa adalah untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kebodohan. Sehingga dunia ini tidak rusak karenanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
إِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ
 “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari) 
Imam Nawawi menjelaskan, “Hadits ini menerangkan bahwa maksud diangkatnya ilmu yaitu sebagaimana pada hadits-hadits sebelumnya secara mutlak. Bukanlah menghapuskannya dari dada para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain.” 
Jika terjadi Penipuan, Kezaliman, Penganiayaan, Penghinaan, Ancaman, dan semua bentuk intimidasi terhadap ulama NU, maka Pendekar Pagarnusa dan seluruh Banom serta Warga NU harus berada di barisan terdepan para pembela ulama NU, bukan malah membantu kezaliman yang dilakukan terhadap ulama NU. Allah berfirman,
وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ
 “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud: 113)
Penyadur:Gus Hendro Diponegoro.. 1)Pengurus Idarah Wustho JATMAN Lampung, 2)MPO.Pemuda Pancasila Prov. Lampung, 3) Wakil Ketua Pendekar Banten Korda 1 Lampung, 4)Pembina PSNU. PW Pagarnusa Lampung,5)Pengurus Dewan Pimpinan Nasional Jaringan Relawan Hijau Nusantara