NKRI HARGA MATI

NKRI HARGA MATI

NKRI HARGA MATI

www.sipronews.com Mengapa Nahdlatul Ulama kukuh menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa ditawar dan Harga Mati. Bahkan siapa saja yang berkeinginan mengubahnya menjadi Negara Komunis dan Negara Khilafah seperti Probaganda kelompok Khawarij Gaya Baru (ISIS, HTI, NII, FPI, MMI, IKHWANUL MUSLIMIN , KHILAFAHTUL MUSLIMIN,JAMAAH ANSHARUT DAULAH/JDA dan antek-antek nya) akan berhadapan dengan warga NU. 

Ada 3 alasan mendasar yang akhirnya menjadikan NU tetap berkomitmen untuk menjadikan NKRI sebagai Harga Mati. 
Pertimbangan Pertama bagi NU, negara bukanlah sebagai tujuan.Selama ini Negara telah menjamin melindungi lima hal pokok (ushulul khams), maka sudah seharusnya keberadaan Negara Republik Indonesia harus didukung dan dipertahankan sampai titik darah terakhir,siap menyabung nyawa untuk mempertahankan NKRI. 
Kelima hal pokok tersebut adalah: 1)terjaganya akal,2) agama, 3)harta, 4)keturunan serta 5) jiwa /nyawa. 
Sehingga, tujuan hakiki dari sebuah negara adalah maslahah 'ammah / kemaslahatan publik, tanpa harus mempersoalkan bentuk dari negara yang ada. 
Pertimbangan kedua adalah, secara substantif keberadaan NKRI sesuai dengan syariat. Karena dalam praktiknya, masyarakat Muslim dan semua warga negara non Muslim bisa menjalankan syariat Agamanya secara penuh. 

Selama ini banyak undang-undang / peraturan di Negara Indonesia yang bisa mengakomodir pelaksanaan syariat Islam. "Seperti berlakunya undang-undang perkawinan, waris, zakat, juga pengelolaan fakir dan miskin.Penanganan fakir miskin di tanah air sesuai dengan tatanan yang disyariatkan dalam Islam.
Pertimbanga yang ketiga adalah NU menyadari akan Kebhinnekaan Bangsa Indonesia, karenanya menghadapi keberagaman itu harus dihadapi dengan arif agar kemajemukan yang ada bisa terjaga dengan baik. Karenanya, NKRI menjadi solusi terbaik bagi upaya menebarkan rasa aman dan damai, tanpa harus ada pihak yang diciderai. 

Bagi NU formalisasi syariah apalagi dalam bentuk negara tidaklah penting. Yang lebih penting adalah bagaimana rasa aman dan nyaman dalam menjalankan syariat bisa terlindungi dengan baik oleh negara.
Bahwa titik tekan sebuah negara adalah bagaimana hukum Islam dapat teraplikasi secara penuh dalam kehidupan sehari-hari bagi pengikutnya, tanpa mempersoalkan status negaranya.
Negara itu hakikatnya adalah sebuah kontrak /akad. Kontrak itu tertuang dalam UUD 1945. Biangnya undang-undang itu regulasi yang mengatur soal pendapatan dan belanja negara.
“Islam menawarkan konsep zakat ada akhdzu(pendapatan) ada tasharruf (belanja). Aksi nyata bernegara adalah bayar pajak. Ini tujuan utama bernegara dalam Islam.Sehingga secara umum semua warga negara (khususnya warga NU) Wajib membayar Pajak.Itulah salah satu wujud Oprasional NKRI Harga Mati, yaitu ikut membangun negara dengan Kesetiaan Membayar Pajak.Jangan sampai kita menjadi Pengemplang Pajak.

Tak bisa dipungkiri bahwa NU mempunyai kontribusi yang besar dalam perumusan Pancasila dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 
Saat-saat menjelang kemerdekaan, para tokoh dan ulama NU sepakat memilih bentuk NKRI dan ideologi Pancasila karena dinilai paling cocok buat bangsa Indonesia yang penuh Kebhinekaan, multi etnis, agama dan budaya.
NU bersatu dengan seluruh komponen bangsa mempunyai sejarah yang panjang dalam dialektika pembentukan NKRI dan Pancasila. Selain bergerak di tataran gagasan dan pergulatan pemikrian, para tokoh dan ulama NU juga bergerak di lapangan, berperang untuk menegakkan NKRI. 
Jadi kalau warga NU sering berteriak NKRI adalah Harga Mati,itu bukan latah, bukan meniru-meniru TNI, tapi memang ada referensi sejarahnya saat menggeloran patriotisme mengusir penjajah dan melawan PKI di Indonesia. 
Walaupun sempat muncul gagasan saat sidang BPUPKI agar Indonesia dijadikan negara agama (Islam) karena faktor demografis yang  mayoritas muslim,
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dimulai pada 29 Mei 1945,dibentuk Panitia Sembilan terdiri dari: Soekarno (Ketua),
Moh Hatta (Wakil Ketua),
Achmad Soebardjo (Anggota), 
Moh Yamin (Anggota),
KH Wahid Hasyim (Anggota) ,
Abdul Kahar Muzakir (Anggota) ,
Abikoesno Tjokrosoejoso (Anggota),
Agus Salim (Anggota),
AA Maramis (Anggota).
Namun para tokoh dan ulama NU yang dimotori KH.Wahid Hasym (bersama tokoh-tokoh yang lain) ketika itu menolak gagasan Indonesia Negara Agama. Sebab, Indonesia multi agama dan etnis, sehingga tidak cocok menjadi negara agama. 
Bagi warga NU sudah bulat NKRI dan Panasila itu adalah pilihan moderat dan terbaik. Bukan negara agama,tapi Indonesia memberi kebebasan kepada pemeluk agama apapun untuk melaksakanan ibadahnya dengan baik. 
Keyakinan warga NU pada agama Islam tidak boleh menutup ruang pemeluk agama lain untuk meyakini dan melaksanakan ajaran agamanya secara baik. Itulah Indonesia, dan karena itu NKRI dan Pancasila harus kita pertahankan sampai kapanpun.


Mbah Liem Salah Satu Ulama NU Pencetus ‘NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya.

Almarhum Almukharom Romo KH Muslim Rifai Imampuro (Mbah Liem) tergolong kiai yang bersahaja, nyentrik, sering berpenampilan nyleneh. Saat memyampaikan pidatonya di muka umum sering berpakaian ala tentara, memakai topi berdasi bersepatu tentara tapi sarungan.
Mbah Liem meninggal dunia pada pagi hari Kamis 24 Mei 2012 dan pada saat prosesi upacara pemakaman Mbah Liem pun juga tergolong tidak seperti umumnya, saat jenazah dipikul dari rumah duka menuju makam di Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia di komplek pesantren diarak dengan tabuhan hadroh “sholawat Thola’al Badrun alainaa” proses pemakamanya seperti Tentara menggunakan tembakan salto yang dipimpin langsung oleh TNI/Polri hal ini dilaksanakan sesuai wasiatnya.
Kiprah Mbah Liem di NU dan untuk NKRI belum banyak orang yang tahu apalagi mendokumentasikannya, hanya setelah beliau wafat sudah mulai ada yang menulis artikel atau cerita-cerita mengenai Mbah Liem di web/blog dan di medsos. Mbah Liem dikenal sangat dekat dengan Gus Dur,Mama Abdulah bin Noeh Bogor, KH. Khusnan Musthofa Gusfron (Lampung),KH.Abdul Chalim Bahsyaiban (Lampung), KH Anis Fuad Hasym (Buntet Cirebon) dll.
Banyak orang mengatakan bahwa Mbah Liem adalah Guru spiritualnya Gus Dur. Dalam struktur NU baik mulai tingkat bawah hingga pengurus besar nama Mbah Lim tidak pernah tercatat sebagai pengurus namun kiprahnya dalam menjaga dan membesarkan NU tidak absen sedikitpun. Mbah Liem walaupun tidak pernah menjadi pengurus NU namun selalu mejadi rujukan para kiai dalam menahkodai NU, bahkan Mbah Liem hampir pasti selalu hadir  dalam setiap acara-acara PBNU mulai dari Konbes, Munas hingga Muktamar NU.
Mbah Liem mendirikan Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Di Klaten. Nama pesantrren tergolong unik dan sudah pasti merupakan bukti konsistensi Mbah Liem dalam mencintai dan menjaga NKRI dan Pancasila. 
Pada kurun tahun 1983 kelompok Radikal ( transnasional) mulai mempersoalkan lagi Pancasila sebagai dasar negara dan mempertanyakan lagi relevansi Pancasila dengan Islam. Gagasan kelompok radikal yang mulai menyoal lagi Pancasila dipandang oleh para Ulama NU sangat membahayakan keutuhan NKRI dan Pancasila maka NU segera menyikapi dengan mengadakan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Sukorejo, Situbondo Jawa Timur dengan hasil sebagai berikut:
1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan Agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan Agama.
2. Sila ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila sila yang lain, mencerminkan Tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.
3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syariat, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.
4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamannya.
5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pegertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.
Semenjak Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai dipersoalkan oleh kelompok Radikal maka para Ulama NU terutama Mbah Liem dalam setiap acara apapun terus mengatakan dan mendoakan agar NKRI Pancasila Aman Makmur Damai HARGA MATI. 
Mbah Liem jika berpidato selalu judul utamanya adalah tentang kebangsaan dan kenegaraan, kurang lebih kalimatnya “Mugo-mugo NKRI, Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati” (Semoga NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati).
 Mbah Liem setiap setelah iqomat sebelum sholat berjama’ah selalu diwajibkan membaca do’a untuk umat islam, bangsa dan negara Indonesia, berikut Doanya:
Subhanaka Allahumma wabihamdika tabaroka ismuka wa ta’ala jadduka laa ilaha Ghoiruka.
“Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho NEGORO KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PANCASILA KAPARINGAN AMAN, MAKMUR, DAMAI. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah.”
Pada saat Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani datang ke Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Mbah Liem meneriakkan yel, NKRI Harga Mati...! NKRI Harga Mati...! NKRI Harga Mati...! Pancasila Jaya, maka sejak itulah yel-yel NKRI Harga Mati menjadi jargon, slogan tidak hanya di NU tapi di beberapa pihak seperti di TNI dan Pendekar Banten (Bela Diri Bela Bangsa Bela Negara NKRI Harga Mati) .

Disadur dari beberapa sumber oleh : Gus Hendro Diponegoro Pengurus Idarah Wustho Jatman Prov.Lampung